Inner Child yang Sering Terabaikan
Pernahkah kalian mendengar mengenai keadaan masa lampau menjadikan diri kita yang sekarang?
Jika pernah, seberapa sering kalian mendengarkan kalimat tersebut? Perlu diketahui bahwa hal tersebut benar dan biasa disebut dengan inner child.
Menurut Bradshaw (2020) mengartikan inner child sebagai bagian dari pengalaman masa lampau yang berdampak di masa sekarang. Pengalaman-pengalaman yang didapatkan pada masa kecil meninggalkan jejak tersendiri untuk anak tersebut.
Jika pengalaman yang didapatkan cenderung pahit atau negatif maka akan menimbulkan sebuah luka batin pada anak tersebut. Namun, mengenai luka batin tersebut masih banyak orang yang tidak mengetahui hal tersebut dikarenakan pengabaian terhadap pengalaman yang membekas dan menganggap hal itu baik. Perlu diketahui bahwa adanya luka batin yang membekas memberikan dampak negatif kepada anak tersebut.
Mengapa hal tersebut dapat memberikan sebuah dampak negatif?
Dikarenakan sebuah luka batin dari inner child tidak bisa hilang atau akan membekas dalam batin anak tersebut. Ketika hal itu dibiarkan maka akan menimbulkan sebuah trauma di kehidupan saat dewasa. Sebagai contoh, adanya ketakutan yang didapatkan mengenai kehidupan pernikahan orang tua yang tidak menyenangkan. Hal ini menyebabkan trust issues di masa mendatang, karena menyaksikan hubungan pernikahan orang tua yang tidak menyenangkan di masa kecil.
Sehingga di masa mendatang akan cenderung menghindar hubungan yang berkomitmen. Susah untuk mengambil sebuah keputusan dikarenakan takut akan adanya sebuah risiko yang harus diterima dalam berhubungan. Selanjutnya, dapat juga tetap berada di zona nyaman dan aman dikarenakan adanya sebuah ketakutan dalam mencoba hal baru.
Lalu apakah luka dari inner child perlu ditindaklanjut?
Sangat dianjurkan untuk ditindaklanjuti, dikarenakan jika luka inner child dibiarkan akan menjadi sebuah masalah yang serius. Lalu bagaimana caranya?
Ada sebuah kalimat mengatakan, *”ada kasih sayang yang muncul ketika kita melihat sosok anak kecil. Pemikiran saya menjadi sebuah orang dewasa bukanlah hal yang menyenangkan ditambah dengan pengalaman saya yang buruk mengenai masa dulu ketika saya menjadi seorang anak. Mengingatkan kembali kepada kenyataan bahwa tidak adanya kasih sayang yang saya dapatkan.” *
Dengan adanya kalimat tersebut meyakinkan kita untuk membantu seseorang yang mengalami luka batin dari inner childnya. Kita dapat membantu dengan berbagai cara yaitu memulai membangun kepercayaan di dalam dirinya. Sampaikan juga bahwa dia pasti bisa melawan ketakutan yang ada di dalam pemikirannya dan mencoba membantu memvalidasi akan perasaan yang sedang dialami.
Perlu diketahui bahwa semua perasaan yang kita alami itu valid. Selayaknya sebagai manusia pasti akan merasakan berbagai macam perasaan seperti sedih, kecewa, senang dan lain-lain.
Jadi, apakah tetap akan mengabaikan luka batin dari inner child ?
Jangan pernah mengabaikan sekecil apapun yang kalian rasakan di setiap pengalaman yang ada, ya. Semua hal yang telah kalian lalui semuanya valid dan berharga. Coba untuk mengutarakan secara perlahan mengenai apa yang sedang kalian rasakan dan alami kepada orang-orang terdekatmu.
Selain itu juga dapat dengan mencari teman yang dapat dipercaya untuk membantu permasalahan ini. Namun, walaupun sudah memiliki teman yang dapat dipercaya tetap jangan pernah ragu untuk konsultasi kepada psikolog, ya!
Referensi
Isya, W. &. (2020). Inner child dalam pandangan konseling analisis transaksional . Prosiding Seminar Lokakarya Nasional Bimbingan dan Konseling.
Rahma, C. (2021, November 3). Retrieved from Orami: https://www.orami.co.id/magazine/inner-child/