4 Konsep dan 1 Bonus dalam Memahami Memaafkan
Memaafkan adalah proses, dan bukan sihir. Memaafkan bukan mantra yang ketika diucapkan langsung simsalabim segala permasalahan selesai. Seandainya semudah mengucapkan mantra, tapi ternyata memaafkan perlu dipahami dan dimengerti. Apalagi jika gagal memahami makna dari memaafkan, bisa bahaya! Karena dapat memunculkan miskonsepsi.
Miskonsepsi dari ‘memaafkan’ itu sendiri mungkin ada di sekitar kita. Jika pemahaman dari memaafkan melenceng, maka runyam sudah. Dan bisa jadi semakin sulit untuk melaksanakan proses ‘memaafkan’. Padahal memaafkan jika dilakukan dengan tepat dan benar akan menghasilkan ketenangan diri yang mampu menyelesaikan beban psikologis.
Oleh karena itu, sedini mungkin perlu untuk memahami miskonsepsi dari ‘memaafkan’ agar terhindar dari paham yang menjerumuskan pada kegagalan selama melakukan memaafkan.
Sebelum lebih jauh, penting untuk mengetahui dan menyepakati bahwa ‘memaafkan’ merupakan sebuah proses yang mana memerlukan sebuah usaha dan kerja keras. Seperti dijelaskan sebelumnya, ‘memaafkan’ bukan mantra sihir yang ketika dilafalkan langsung menyelesaikan masalah. Sayangnya, bukan begitu.
Memaafkan harus dibedakan dengan melupakan, keegoisan, pengabaian, pembenaran, mencari alasan, berduka atas sebuah kejadian. Yang jelas memaafkan bukan sebuah seremonial semata, memaafkan adalah sebuah kegiatan dan proses aktif terus menerus. Sebab itu, jangan samakan memaafkan dari sekadar kata-kata, tetapi harus dimaknai sebagai perjuangan dalam menghargai diri sendiri. Dan tentu saja ini semua tidak mudah.
Berikut ada empat konsep yang harus dipahami selama melakukan proses memaafkan.
Memaafkan adalah Sebuah Proses
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, memaafkan adalah proses. Karena memaafkan tidak berhenti ketika sudah diucapkan “aku minta maaf,” sayangnya tidak seperti itu. Perjuangan dalam memaafkan tidak sekadar hanya kata meminta maaf, atau mengiyakan sebuah permohonan maaf seseorang.
Memaafkan berlangsung terus menerus, memaafkan proses aktif yang harus terus menerus bekerja hingga tuntas. Sampai selesai semua permasalahan yang dirasakan di hati ini, agar bersih, dan tentu semua persoalan jadi beres. Jika masih ada noda atau kekesalan dalam hati, tentu saja sulit untuk memaafkan.
Bila amarah masih tertinggal, kebencian masih bersemayam, dan dendam masih menjadi upaya untuk penyelesaian permasalahan, sudah pasti proses memaafkan akan sangat sulit. Oleh karena itu, penyelesaian dengan permasalahan pada kemarahan, kebencian dan dendam harus dihilangkan. Apabila sulit untuk menghilangkan sekaligus emosi dan pikiran negatif tersebut, maka ada baiknya untuk mengurangi pelan-pelan.
Karena memaafkan adalah sebuah proses, maka tidak salah untuk menyelesaikan emosi dan pemikiran negatif dengan bertahap. Pelan tapi pasti. Perlahan tapi tuntas! Sebabnya, memaafkan adalah sebuah proses aktif. Memaafkan adalah perjalanan dan perjuangan.
Memaafkan itu Tidak Melupakan
Kata siapa memaafkan itu sama dengan melupakan? Oh, jelas berbeda.
Kemudian muncul pertanyaan, “jika masih diingat berarti tidak ikhlas dong?”
Sesungguhnya memaafkan dan melupakan adalah dua hal berbeda. Pada dasarnya kita bisa memaafkan tetapi masih mengingat atau mengenang kesalahan seseorang (atau diri sendiri). Lagi pula, mengingat kesalahan tertentu bukan berarti tandanya tidak ikhlas, bukan?
Tetap ingat adalah sebuah cara kita untuk terus belajar dan waspada, agar di masa mendatang tidak melakukan hal yang sama. Memaafkan adalah proses untuk penyelesaian pada diri sendiri, bukan penyelesaian dengan orang lain. Karena jika ingin melakukan penyelesaian dengan orang lain, tentu perlu tindakan lanjutan.
Memaafkan Bukan Berarti Tidak Tanggung Jawab
Memaafkan dan bertanggung jawab jelas berbeda. Memaafkan adalah tindakan penyelesaian secara internal atau emosional dengan diri sendiri/orang lain. Kemudian, tanggung jawab adalah penyelesaian permasalahan yang lebih luas lagi.
Jika terjadi sebuah kecelakaan antara dua pihak, maka penyelesaian tidak cukup hanya meminta maaf, bukan? Perlu ada tanggung jawab untuk menangani luka fisik dari kecelakaan tersebut. Oleh karena itu, penting adanya tanggung jawab untuk membawa korban ke rumah sakit agar diberi penanganan medis.
Tidak hanya dengan meminta maaf, lalu permasalahan selesai. Harus ada tindakan lanjutan untuk penyelesaian masalah yang terjadi. Karena setelah memaafkan seharusnya tidak mengabaikan keadaan sang “korban”, dan seharusnya bertanggung jawab untuk mengembalikan keberhargaan diri si “korban” dari pihak yang bersalah.
Jadi ingat ya, penting untuk bertanggung jawab sebagai proses lanjutan dari memaafkan.
Memaafkan Bukan Berarti Rekonsiliasi
Pada bagian ini seperti kewajiban untuk bertanggung jawab. Memaafkan bukan berarti menyelesaikan permasalahan secara keseluruhan. Ada beberapa hal yang terluka, dan rusak yang perlu diperbaiki.
Memaafkan bukan berarti menyelesaikan seluruh permasalahan dan langsung berdamai, melainkan perlu tindakan lanjutan untuk penyelesaian masalah. Penyelesahan yang menjadi sumber masalah.
Bila terjadi pertempuran sengit antar dua kelompok yang mana memicu konflik berkepanjangan. Dan kemudian berhasil untuk saling memaafkan kedua kelompok tersebut, lalu langkah selanjutnya adalah melakukan rekonsiliasi atas kedua kelompok. Misalnya, membangun kerja sama baru, menyelesaikan yang menjadi penyebab konflik. Dengan begitu proses rekonsiliasi untuk berdamai dengan kedua pihak bisa berjalan.
Perlu diperhatikan untuk kita semua agar mampu melanjutkan proses memaafkan hingga sampai rekonsiliasi. Menjalin kembali hubungan baik dengan pihak yang dulu berseteru.
Bonus: Memaafkan Semu (Pseudo-Forgiveness)
Nah, yang terakhir ini perlu diperhatikan. Bilamana sudah mengetahui empat konsep dalam memaafkan. Maka yang ini bisa menjadi bonus.
Sedari tadi mungkin sudah dibahas untuk menghindari perbuatan yang hanya sekadar kata maaf. Karena jika demikian, maka permintaan maaf tersebut termasuk ke dalam pseudo-forgiveness (permintaan maaf semu).
pseudo-forgiveness adalah tindakan memaafkan yang tidak sungguh-sungguh, hanya sebatas kata-kata. Tidak ada proses yang benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan, baik penyelesaian secara emosional dengan diri sendiri atau penyelesaian permasalahan dengan orang lain lebih lanjut.
Permintaan maaf tersebut tidak tulus dan cenderung palsu. Jangankan, menyelesaikan permasalahan dengan diri sendiri, penyelesaian dengan diri sendiri saja tidak sungguh-sungguh. Maka dari itu, permintaan maaf yang dilakukan sangat jauh dari proses aktif yang berusaha untuk menyelesaikan beban psikologis.
Demikian lah, dalam memaafkan perlu kesungguhan hati, karena memaafkan sebuah proses dan perjalanan panjang. Proses ini tidak dapat dicapai hanya sekadar kata-kata. Perlu adanya kesadaran penuh dan keteguhan untuk menjalani proses memaafkan.
Pesan terakhir tentu, jika beban psikologis teramat berat dan sulit diselesaikan seorang diri, maka jangan ragu untuk mencari pertolongan profesional, ya!
Referensi
Freedman, S., & Zarifkar, T. (2016). The psychology of interpersonal forgiveness and guidelines for forgiveness therapy: What therapists need to know to help their clients forgive. Spirituality in Clinical Practice, 3(1), 45–58. https://doi.org/10.1037/scp0000087