Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Memaafkan untuk Membebaskan

Mohon maaf lahir dan batin!

Di hari raya penuh kasih, saatnya berkumandang kemenangan. Mari kita kembali fitri alias bersih suci kembali.

Lebaran merupakan hari yang erat dengan permintaan maaf. Sebagai penutup dari perjuangan satu bulan menahan hawa nafsu, lalu diakhiri dengan saling memaafkan. Oleh karena itu, ramadan menjadi perjalanan spiritual yang menarik.

Selain ada ketupat, nastar, dan berbagai makanan bernuansa santan, terdapat momen haru yang menguatkan hati, yakni; saling memaafkan.

Meminta maaf dan memaafkan mungkin menjadi satu kesatuan di hari raya lebaran ini. Memaafkan ternyata memang banyak manfaatnya secara psikologis. Memaafkan menjadi salah satu penyembuhan diri dari luka batin.

Apa pun hal yang melukai hati bisa disembuhkan dengan memaafkan. Mungkin terdengar seperti klise, ya? Namun, percaya lah ini semua ada pembahasannya di jurnal ilmiah. Memaafkan sebagai salah satu penyembuhan diri. Menguatkan hati, dan melapangkan jiwa.

Penelitian menunjukan bahwa memaafkan telah terbukti berpotensi sebagai terapi dalam mengatasi luka hati. Sekitar 30 tahun ke belakang, memaafkan telah dikembangkan dan banyak digunakan sebagai teknik penyembuhan diri dalam mengatasi permasalahan psikologis.

Meskipun begitu, tidak semua luka hati dapat dibersihkan dengan instan melalui memaafkan. Mengapa begitu? Ya, semua tergantung seberapa besar beban psikologis yang ditanggung. Semakin besar beban luka psikologis yang dialami, maka semakin sulit untuk dibebaskan dengan memaafkan. Namun, bukan berarti sama sekali tidak bisa disembuhkan.

Jika perasaan atau beban psikologis terlalu berat akan sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog.

Selanjutnya, kembali pada topik mengenai memaafkan dan penyembuhan diri. Jika beban psikologis masih tidak terlalu dalam atau masih dikategorikan ringan, memaafkan bisa menjadi solusi yang cukup baik dalam memberikan kesempatan pada diri untuk melakukan penyembuhan secara psikologis.

Jadi bisa ditarik kesimpulan (sementara) bahwa semakin dalam luka hati atau beban psikologis, maka akan semakin lama prosesnya untuk memaafkan. Berbalik dengan beban psikologis yang masih tergolong ringan, maka proses memaafkan akan jadi lebih cepat.

Terapi Memaafkan

Salah atau berbuat salah merupakan hal yang sering terjadi pada hidup ini. Bukan klise, tetapi manusia memang sangat sulit untuk luput dari kesalahan. Siapa pun di antara kita pasti pernah berbuat salah. Kesalahan yang dibuat mungkin merugikan orang lain, atau bisa juga merugikan diri sendiri yang pada akhirnya menjadikan kecewa.

Perasaan kecewa yang hadir memang sulit dikendalikan, dan menjadi beban bagi psikologis. Perasaan yang membuat merasa tidak berharga, kesal, benci, dendam, dan berbagai emosi negatif lainnya akan berdampak pada keseharian kita. Jika terlalu besar perasaan negatif tersebut, tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Bila sudah mengganggu keseharian, maka akan rumit dan ruwet (tentunya).

Memaafkan sebagai bentuk terapi bisa digunakan untuk mengatasi perasaan negatif yang dirasakan. Memaafkan membantu untuk menghempaskan kebenciaan, kepahitan hidup ini, dendam, dan perasaan tidak menyenangkan yang membuat kita berada di posisi tidak adil. Memaafkan dapat menjadi terapi diri, karena dengan memaafkan akan perlahan membantu mengurangi beban emosi negatif seperti amarah, dendam, benci, kecewa, dan lainnya.

Memaafkan menjadi sebuah proses untuk menyelesaikan segala hal negatif yang dirasakan. Bahkan di balik memaafkan ada tindakan untuk menghargai dan menyayangi diri sendiri, kembali untuk memahami segala hal yang terjadi, kemudian bersiap melanjutkan hidup ini.

Mengapa memaafkan dapat melegakan perasaan negatif yang tertimbun? Memaafkan dengan tujuan penyembuhan diri bertujuan untuk melepaskan perasaan negatif dengan menguatkan empati dan kasih sayang. Dengan menguatkan empati, dan kasih sayang akan menguatkan perasaan positif pada diri untuk lebih menghargai dan mencintai diri sendiri. Semua hal yang terjadi biarlah berlalu, dengan memaafkan membantu kita menguatkan hati untuk mengampuni orang lain dan diri sendiri. Dengan begitu, perasaan negatif jadi lebih mudah untuk dihempaskan.

Memaafkan sebagai penyelesaian segala amarah, dendam, benci, dan perasaan negatif lainnya dengan penuh damai. Yang dimaksud dengan damai adalah melakukan penyelesaian pada penyebab perasaan negatif tanpa melukai orang lain atau diri sendiri. Sehingga, memaafkan melakukan penyelesaian tanpa balas dendam.

Oleh karena itu, di hari penuh kasih sayang ini. Di waktu lebaran ini, mari kita saling memaafkan. Sudah waktunya untuk menatap masa depan yang lebih baik. Sudah waktunya kita memaafkan orang lain, dan diri sendiri, agar membebaskan diri kita dari perasaan negatif yang membelenggu. Perasaan negatif yang bisa kapan saja mengganggu keseharian, atau membuat ketenangan hati menjadi tidak nyaman.

Mari kita saling memaafkan, saling mendukung. Memaafkan untuk menjadi jiwa lebih bersih dan suci. Maafkan diri sendiri, maafkan orang lain!

Oh, iya! Jika memang ada perasaan yang masih sulit untuk dimaafkan, dan benar-benar mengganggu keseharianmu. Jangan ragu untuk menghubungi tenaga profesional seperti psikolog, ya!

Referensi

Freedman, S., & Zarifkar, T. (2016). The psychology of interpersonal forgiveness and guidelines for forgiveness therapy: What therapists need to know to help their clients forgive. Spirituality in Clinical Practice, 3(1), 45–58. https://doi.org/10.1037/scp0000087

Tulisan ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh psikolog atau tenaga kesehatan. Jika Anda merasa kewalahan, hubungi psikolog, puskesmas, atau layanan kesehatan terdekat.

R
Redaksi psiko.id

Tim redaksi psiko.id menulis dan menyunting artikel agar psikologi mudah dibaca, akurat, dan relevan untuk pembaca Indonesia.