Memahami dan Menghargai Perspektif Anak dalam Menghadapi Dunia
Tahap anak merupakan fase penting dalam perkembangan seseorang. Mengabaikan atau menelantarkan anak akan berdampak besar untuk masa depannya. Setiap anak perlu diberikan hak yang sama untuk berkembang, agar dapat menjadi individu yang mampu bersaing di masa depan.
Salah satu yang berkembang akhir-akhir ini mengenai pendidikan untuk anak, ialah bagaimana kita mampu memberikan pendidikan yang tepat untuk anak, pendidikan yang mampu membuat sang anak berkembang dengan baik dan mengeluarkan seluruh potensinya. Ditambah lagi di era serba modern semakin banyak tantangan dalam memberikan pendidikan untuk anak. Oleh karena itu, memberikan pendidikan anak menjadi perhatian khusus.
Sebelum memasuki mengenai pendidikan untuk anak, sebaiknya kita memahami dan mengerti anak itu sendiri. Memahami anak dari sudut pandangnya, keinginan, kebutuhan, kemampuan, dan pengalaman mereka sendiri. Perspektif atas anak perlu menjadi pertimbangan agar kita mampu memahami sang anak lebih dalam, yang mana hal tersebut bertujuan untuk keperluan tumbuh kembangnya kelak.
Melalui konvensi PBB Hak Atas Anak-anak pada tahun 1989, menyatakan bahwa sangat perlu untuk kita memberikan anak-anak kesempatan bersuara, mendengarkan suara mereka pula, memberikan tanggung jawab, dan kepercayaan sebagai individu untuk berkembang. Hal ini didasari bahwa sesungguh anak-anak pun memiliki pengalaman dan sudut pandang dalam memahami dunianya. Dengan begitu menjadi dasar anak untuk berkembang dan bersiap menghadapi dunia. Maka sangat penting untuk menyadari bahwa anak-anak adalah individu utuh atas diri mereka sendiri.
Perkembangan pendidikan untuk anak-anak pun belakangan ini didasari pada prinsip tersebut, yaitu berlandaskan pada hak dan perspektif anak atas dunia atau pengalaman yang dirasakan. Pendidikan yang usang ialah jenis pendidikan yang menyamaratakan setiap anak tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain yang berpengaruh. Faktor lain yang berpengaruh seperti budaya, iklim politik, teknologi, keluarga, nilai atau norma sehari-hari, dan termasuk keunikan setiap anak itu sendiri.
Pendidikan yang menyamaratakan untuk setiap anak dinilai tidak tepat dan justru akan menghambat potensi anak untuk berkembang. Maka dari itu, untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak, diperlukan pemahaman yang tepat pula dalam mengerti hak dan pengalaman individu setiap anak. Menurut Sommer dkk (2010) ada dua pendekatan agar mampu memahami anak dan dunianya, yaitu perspektif kita dalam memahami sang anak (Child Perspectives), dan perspektif sang anak itu sendiri (Children’s Perspective). Kedua perspektif tersebut berguna untuk memahami dunia anak untuk berkembang, dan menciptakan pendidikan yang sesuai untuk setiap potensi anak.
Dua Perspektif Memahami Anak
Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Memahami hak anak dapat memberikan landasan kepada kita untuk menerapkan pendidikan terbaik untuk mereka. Sommer dkk (2010) menjelaskan dua perspektif dalam memahami anak, dengan tujuan untuk mengenali anak dari potensi dan bakatnya. Selanjutnya adalah menciptakan pendidikan yang tepat bagi anak berdasarkan perkembangan dan pengalaman masing-masing. Pada dasarnya setiap anak berhak didengarkan dan diperhatikan segala haknya. Memberikan kesempatan lebih banyak bersuara, memberikan kesempatan kepada kita pula untuk memahaminya.
Perlu diperhatikan bahwa anak-anak memiliki versinya sendiri dalam menilai atau memahami sesuatu (child version), begitu sebaliknya dengan dewasa yang memiliki pemahaman berbeda (adult version). Kedua hal ini tidak bisa saling dipaksakan atau disamakan begitu saja.
Dua pendekatan yang diterangkan oleh Sommer dkk (2010) digunakan untuk memahami anak-anak lebih komprehensif, yaitu child perspective dan children’s perspective.
-
Perspektif orang dewasa dalam memahami anak (Child perspective), adalah cara seorang dewasa dalam melakukan pendekatan terhadap pemahaman sang anak atas persepsi, pengalaman, ucapan dan tindakan anak-anak di dunianya. Dengan begitu kita dapat mendekati pemahaman kita dengan pemahaman anak-anak, sesuai dengan yang dirasakan dan dialami oleh anak itu sendiri. Hal ini bertujuan agar mengetahui apa, bagaimana, dan kenapa anak kecil memahami sesuatu.
-
Perspektif sang anak itu sendiri (Children’s perspective), mewakili atau mempresentasikan pengalaman, persepsi, dan pemahaman anak yang dimiliki atas dunianya. Perlu diperhatikan bahwa setiap anak memiliki sudut pandang dan pemahamannya masing-masing.
Dengan dua pendekatan perspektif tersebut merupakan langkah penting dalam memahami anak dan dunianya. Sehingga dapat membangun pendidikan dibutuhkan oleh setiap anak. Karena pendidikan yang baik untuk setiap anak akan berbeda-beda pula, tergantung bagaimana kebutuhan dan potensi anak yang dimiliki.
Selanjutnya terdapat lima langkah elaboratif dalam memahami dunia anak, yaitu disebut dengan lima asumsi dasar dalam memahami perspektif anak. Pendekatan ini berguna agar kita menerapkan pendekatan perspektif dalam kehidupan sehari-hari. Berikut penjelasan lebih detailnya.
Lima Asumsi Dasar
Lima asumsi ini membantu dewasa, guru, atau orang tua dalam memahami persepsi dari anak-anak. Lima asumsi ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni sebagai berikut:
-
Melihat anak sebagai individu
Pada kondisi ini guru, orang tua, atau dewasa harus memahami bahwa anak-anak merupakan individu yang utuh dan memiliki otonominya sendiri. Anak-anak seperti manusia pada umumnya, yang membutuhkan rasa dihargai, dan dicintai. Melihat anak-anak sebagai individu, bukan sebagai objek.
-
Berempati atas setiap partisipasi anak
Membangun relasi dengan empati terhadap anak cukuplah penting. Sepertinya memandang wajah anak ketika berbicara atau mendengarkannya dengan seksama, hal tersebut akan membangun kondisi emosi yang saling mendukung (emotional support). Hal ini juga memberikan dampak baik atas tumbuh kembangnya keadaan mental dan keyakinan anak dalam mengeksplor dunianya.
-
Mencoba memahami dan mendengarkan setiap pendapat anak
Anak-anak memiliki cara tersendiri dalam mengelola pemahaman dan pengalamannya atas dunia. Pada tahap ini, orang dewasa tidaklah perlu membandingkan pemahamannya dengan pemahaman yang dimiliki oleh anak secara langsung. Akan sangat penting untuk setiap orang dewasa mendengarkan dan memahami bagaimana cara pikir sang anak dalam menjelaskan sesuatu. Selanjutnya adalah peran dewasa dalam memberikan pemahaman yang tepat dan berguna untuk anak.
-
Mendorong tindakan proaktif sang anak.
Mendorong keterlibatan emosional dan eksplorasi dalam setiap aktivitas anak menjadi penting. Dalam hal ini diperlukan melakukan dorongan agar anak merasa nyaman dan mampu untuk melakukan tindakan proaktif dalam setiap kegiatannya. Fungsi orang tua ialah membimbing dan mengawasi setiap kegiatan anak tanpa selalu melakukan dominasi pada anak itu sendiri. Sehingga anak dapat merasakan antusias terhadap eksplorasi setiap kegiatan yang dilakukan.
-
Pendidikan melalui proses dialog antara anak dan guru/orang tua. Anak juga tidak harusnya dibiarkan mengeksplor dunianya tanpa pengawasan. Pada tahap ini diharapkan pihak dewasa akan melakukan dialog dan pengawasan atas segala tindak tanduk sang anak. Anak boleh saja diberikan kebebasan, tetapi pada waktu lainnya pihak dewasa juga perlu melakukan kontrol atas kegiatan sang anak. Kedua interaksi antara anak dan pengajar (orang tua atau guru) perlu dilalui melalui proses dialog dua arah.
Kelima asumsi dasar tersebut yang digunakan dalam melakukan pendekatan agar pihak dewasa mampu memahami persepsi anak. Dengan memahami persepsi anak, maka kita mampu mengerti anak lebih komprehensif dan diharapkan pula kita dapat menjunjung hak anak agar mampu berkembang di dunianya. Sangat perlu disadari bahwa setiap anak adalah istimewa, mereka memiliki kekuatan dan kemampuannya masing-masing. Kita sebagai orang dewasa perlu membimbing dan mengawasi agar mereka dapat berkembang sebaik-baiknya sesuai dengan bakat atau potensi yang dimiliki.
Referensi
Sommer, D., Pramling Samuelsson, I., & Hundeide, K. (2013). Early childhood care and education: A child perspective paradigm. European Early Childhood Education Research Journal, 21(4), 459–475. https://doi.org/10.1080/1350293X.2013.845436