Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Pesan Singkat Grup Keluarga: Bagaikan Mencari Kebenaran di Tumpukan Bias Informasi

Kira-kira dalam satu hari, ada berapa informasi yang kita terima? Ratusan? Ribuan? Yang jelas ada banyak sekali informasi baru setiap harinya. Namun, apa semua informasi itu benar adanya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa jadi perlu kita renungi sesaat. Pada dekade terakhir ini kita sedang berada pada zaman yang penuh dengan informasi. Tanpa perlu repot mencari, kita sudah mendapatkan informasi di dalam ponsel pintar, salah satunya melalui pesan di grup Whatsapp.

Hari-hari kita sekarang diwarnai informasi yang dikirimkan melalui grup keluarga di ponsel pintar. Bagaimana orang tua, dan anggota keluarga lainnya bisa heboh karena satu pesan yang terkirim di grup tersebut. Tema apa pun bisa dibahas di dalam grup keluarga tersebut, mulai dari politik, kesehatan, ataupun info yang disebut-sebut sebagai “sekadar berbagi.”

Sayangnya dari sekian banyak informasi disampaikan melalui pesan singkat grup keluarga tidak semuanya benar. Banyak juga informasi yang diberikan hanyalah fiktif, bohong dan juga kerap menyesatkan. Hal ini akan sangat membahayakan bagi penerima pesan.

Selain itu, tentu ada banyak sumber informasi yang melalang lintang, seperti di Twitter, Youtube, Facebook, dan sumber daring lainnya. Seperti halnya informasi di grup keluarga, informasi yang didapat dari media sosial pun tidak semuanya fakta.

Jika banyak informasi yang tidak valid tersebar di media sosial ataupun grup keluarga, maka informasi tersebut menyebarkan data-data palsu yang cenderung menyesatkan. Informasi bohong menghadirkan informasi lebih cepat dibandingkan sumber kredibel lainnya. Informasi tersebut memancing emosi dan keingintahuan dibandingkan pengetahuan yang objektif.

Dampak dari informasi bohong pun tidak main-main. Seseorang bisa saja menjadi pembenci dengan begitu mudah karena berita bohong, ataupun meningkatnya agresi pada kelompok tertentu. Informasi yang penuh dengan bias cenderung membuat seseorang mengambil keputusan yang tidak tepat.

Pada zaman dengan segala kemudahan informasi ini membuat seseorang jadi lebih mudah terpedaya akan berita bohong. Disajikan kemudahan informasi melalui berbagai saluran seperti grup pesan singkat keluarga, twitter, facebook, youtube dan lainnya justru lebih menggoda dibandingkan berita jurnalistik yang menghadirkan fakta dua sisi.

Lalu, mengapa begitu mudahnya percaya pada suatu informasi? Meski kebenaran dari informasi tersebut belum diperiksa terlebih dahulu.

Bagaimana hal tersebut terjadi? Mengapa manusia lebih senang terhadap informasi yang menggairahkan dibandingkan fakta yang apa adanya?

Banyak faktor yang mampu menciptakan keadaan tersebut. Salah satunya karena faktor kognitif yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Dalam kemampuan berpikir manusia, informasi yang menggugah emosi atau mendukung sebuah keyakinan pribadi menjadi lebih dipercaya, dibandingkan sebuah informasi yang objektif.

Sisi lainnya, informasi yang berimbang tentu mampu mengancam keyakinan pribadi (personal belief) atau kepercayaan yang sudah dimiliki sehingga manusia cenderung menghindari informasi tersebut. Dalam psikologi, tahap tersebut dikenal dengan hot cognition.

Hot Cognition

Menurut Kunda (1999), hot cognition adalah proses berpikir yang terpengaruh oleh hasrat dan perasaan yang dimiliki setiap individu, sehingga penilaian (judgement) atau keputusan yang diambil hanya mengandalkan emosi/perasaan semata.

Istilah hot cognition dapat difungsikan sebagai suatu cara menangkap informasi yang hanya menguatkan keyakinan pribadi (personal belief) dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan keyakinan yang telah dimiliki.

Berikut ialah faktor-faktor yang mampu memunculkan hot cognition.

Tujuan Terarah (Directional Goals)

Tujuan terarah (directional goals) ialah suatu cara memahami keadaan dengan didorongnya tujuan atau keinginan yang spesifik. Dengan begitu, seseorang hanya peduli pada informasi yang diinginkan. Semua ini terjadi untuk memenuhi hasrat atas keyakinan/pemahaman yang dimiliki dirinya sendiri.

Pencarian informasi yang tergerak melalui directional goals bertujuan untuk membuktikan bahwa keyakinan yang dimiliki merupakan benar adanya. Biasanya pada tahap ini seseorang cenderung memilih informasi yang sesuai dengan keyakinan dirinya. Jika tidak sesuai, informasi tersebut akan diabaikan begitu saja. Pemahaman yang didapatkan pun menimbulkan penilaian (judgement) yang bias.

Kecenderungan pada tahap ini ialah mengabaikan informasi yang bertentangan dengan keyakinannya. Oleh karena itu, sering kali individu berusaha mencari informasi agar memenuhi standar logikanya meskipun pemahaman yang didapatkan terkadang hanya sepihak.

Oleh karenanya, individu cenderung berusaha mencari informasi dari sumber-sumber kredibel, asalkan informasi tersebut memenuhi hasrat yang diinginkan. Sesungguhnya kita pun berusaha berpikir logis atau objektif, tetapi faktanya informasi yang didapat cenderung untuk membenarkan pemahaman yang dimiliki selama ini saja.

Afirmasi Diri (Self-affirmation)

Afirmasi diri merupakan bagian dari directional goals. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, setiap individu dalam dirinya sudah memiliki keyakinan atau pemahaman pribadi (personal belief). Pemahaman tersebut berusaha dipenuhi atau diyakini dengan informasi yang ada sehingga manusia lebih suka mendapatkan informasi yang mendukung pemahaman personalnya (personal belief).

Pada tahap ini disebut afirmasi diri, yang bertugas meyakinkan diri sendiri akan pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya. Sisi buruknya, informasi yang bertentangan dengan keyakinan cenderung ditolak mentah-mentah dan tidak diakui kebenaran informasinya.

Pembuktian Diri (Self-evident)

Pembuktian diri sering digunakan oleh tiap individu dalam meyakinkan dirinya sendiri. Pembuktian diri (self-evident) menjadi lebih mudah karena informasi yang digunakan berdasarkan pengalaman pribadi semata, kemudian atas dasar tersebut menjadi pengetahuan yang menggeneralisasi semua keadaan.

Misalnya jika, saat ini Anda memiliki keyakinan bahwa mencari pekerjaan itu sulit, dan pada waktu yang sama, Anda juga merupakan pengangguran. Berdasarkan hal tersebut Anda mampu menyimpulkan bahwa pada zaman sekarang mencari pekerjaan itu sulit, dengan membuktikan bahwa Anda sendiri merupakan pengangguran.

Padahal, ada banyak faktor yang menyebabkan Anda tidak mendapatkan pekerjaan. Pengambilan kesimpulan dari bukti yang dimiliki sendiri mampu menggiring ke pemahaman yang bias terhadap realita.

Mengatasi Bias Informasi

Pada zaman sekarang, informasi yang tersebar sangatlah banyak. Tanpa disadari kita telah dibombardir dengan segala informasi, baik yang sangat penting hingga informasi yang remeh temeh sekalipun.

Namun demikian, perlu melakukan sebuah tindakan yang preventif agar pemahaman yang didapatkan tidak salah. Dengan begitu informasi yang berdasarkan penuh bias dapat dihindari. Beberapa langkah untuk menghindari bias informasi adalah sebagai berikut.

  • Tidak Terburu-buru Mengambil Kesimpulan

Kesalahan yang sering terjadi dalam terciptanya pemahaman yang bias ialah karena terburu-buru mengambil kesimpulan. Pertama kali yang dilakukan agar tidak tergesa-gesa menentukan keputusan adalah tidak terpancing emosi ketika mendapatkan suatu informasi. Setiap informasi baru yang didapatkan perlu dilakukan pengecekan data tersebut.

  • Terbuka pada Kemungkinan yang Lain

Sebelum memberikan penilaian (judgement) atau keputusan, ada baiknya mengambil waktu sejenak untuk memikirkan kemungkinan lainnya yang bisa terjadi. Dengan demikian kita tidak menutup peluang lainnya. Ada banyak hal yang bisa saja terjadi di dunia ini.

  • Mempelajari Sudut Pandang Lain

Ketika terbuka pada kemungkinan atau pendapat lainnya, diperlukan juga mempelajari sudut pandang orang lain, baik dari segi informasinya ataupun emosi yang dirasakan oleh pihak lain. Mempelajari sudut pandang orang lain akan membuka sikap untuk memahami lebih jauh pada apa yang telah terjadi.

  • Mendapatkan Informasi Secara Holistik

Tidak hanya terpaku pada informasi yang sepotong, perlu dilakukan pencarian dan penggalian data yang lengkap. Demikian, informasi yang didapatkan juga akan sangat kaya dan beragam. Selanjutnya, kita berusaha menentukan suatu keputusan atau pemahaman yang objektif untuk diri sendiri

  • Berpikir Kritis

Kita berusaha melakukan pengecekan kembali pada informasi yang didapat, memahami konteks keadaan yang terjadi, dan mencoba memahami informasi dengan menganalisis melalui data-data yang dimiliki.

Referensi

Kunda, Ziva, (1999), “Social Cognition: Making Sense of People”, United States of America, Massachusetts Institute of Technology.