Meyakini Zodiak dan Kemudian Simsalabim Terwujudlah!
Ramalan bintang atau zodiak sering kita temui di mana-mana. Informasi mengenai keberuntungan, karakteristik, keuangan dan bahkan percintaan menjadi pembahasan yang kerap muncul dalam ramalan tersebut.
Kita memiliki kecenderungan untuk meyakini zodiak. Seperti misalnya karakteristik bintang A yang keras kepala, bintang B humoris, dan berbagai ciri khas lainnya.
Ketika membaca keterangan mengenai karakteristik zodiak, mungkin kita akan berpikir “ah iya ini bener banget,” atau dengan sekejap kamu merasa segala info karakteristik zodiak dari gebetanmu sesuai deskripsi yang disampaikan.
Apakah pada saat itu zodiak benar-benar bisa meramal dan menggambarkan karakteristik seseorang?
Terlepas dari benar atau tidak ramalan zodiak, terdapat hal menarik dari perilaku manusia yang terkadang secara sadar atau tidak sadar kita mewujudkan ramalan zodiak untuk menjadi nyata. Hal tersebut disebut sebagai self-fulfilling prophecy.
Self-fulfilling Prophecy
Yaitu, suatu proses seseorang yang berekspektasi dalam meyakini sesuatu dan kemudian tanpa sadar mengarahkan perilaku yang diyakini. Pada akhirnya, sesuatu yang diharapkan benar terjadi dan mengkonfirmasikan keyakinannya.
Self-fulfilling prophecy merupakan fenomena yang cukup sering terjadi. Terdapat tiga langkah, untuk mewujudkan self-fulfilling prophecy.
- Pertama, seseorang memiliki kesan atau ekspektasi pada target tertentu
Pada tahap ini seseorang akan memiliki ekspektasi pada suatu hal, misalnya ramalan zodiak menyatakan bahwa warna merah adalah warna keberuntunganmu di minggu ini. Selanjutnya kamu telah memiliki ekspektasi baru pada ramalan zodiak.
- Kedua, seseorang merasa bahwa kesan atau ekspektasi tersebut sesuai dengan target
Tahap ini kamu mulai merasa bahwa ramalan zodiak memberikan petunjuk mengenai cara mendapatkan keberuntungan. Selanjutnya kamu mulai memiliki ekspektasi bahwa merah akan segera menghadirkan keberuntungan. Harapan dan perilaku mulai menyesuaikan diri dengan ramalan zodiak.
- Ketiga, secara tidak disadari seseorang mulai mengonfirmasi keyakinan atau ekspektasinya.
Terakhir, aktivitas yang dilakukan terdorong oleh ramalan zodiak tersebut. Sehingga kamu terus berupaya menggunakan apapun yang berwarna merah. Sepatu merah, baju merah, spidol merah, dan tas berwarna merah. Dari sekian banyak benda berwarna merah ternyata hasil ujian dengan menggunakan spidol warna merah memberikan nilai tertinggi di kelas. Pada tahap ini kamu mengonfirmasi bahwa ternyata merah membawa keberuntungan dalam hidupmu.
Namun, kamu juga lupa bahwa benda berwarna merah lainnya ternyata sama sekali tidak memberikan keberuntungan. Kamu pun hanya terfokus pada spidol warna merah semata, dan menganggap bahwa merah benar-benar pembawa keberuntungan. Pada tahap ini self-fulfilling prophecy dengan sempurna.
Dengan begitu seseorang terkadang bisa meyakinkan hal itu terjadi pada kehidupan sehari-hari, sehingga ia mewujudkan harapan atau ekspektasinya sendiri. Demikian self-fulfilling prophecy terjadi.
Apa yang kita yakini benar, secara tidak sadar mencoba mewujudkannya dengan perilaku di kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya kita akan mendapatkan sebuah momen yang memunculkan kesan “tuh, benarkan kata aku!”
Padahal mungkin saja kejadian tersebut terjadi secara kebetulan. Bayangkan jika dari 100 ramalan zodiak hanya 10 yang benar terjadi. Tanpa berpikir panjang dengan 10 bukti langsung meyakini seluruh ramalan zodiak itu terbukti, dan melupakan 90 ramalan lain yang tidak terjadi. Dengan begitu kita telah mengambil jalan pintas untuk meyakini suatu fenomena.
Self-fulfilling prophecy tidak hanya semata terjadi pada ramalan zodiak. Berbagai kejadian yang melibatkan keyakinan dan ekspektasi pada suatu hal dapat memungkinkan kita untuk melakukan self-fulfilling prophecy.
Misalnya, meyakini hari ini akan terjadi hujan, dan beberapa waktu berikutnya benar-benar turun hujan – pada fenomena ini terjadilah self-fulfilling prophecy yang memunculkan momen “tuh betul kan!”
Referensi
Kassin, S., Fein, S., & Markus, H. R. (2014). Social Psychology 9th edition. Belmont. Cengage Learing.