Sejarah dan Perjalanan Prasangka dari Waktu ke Waktu
Di psikologi prasangka atau prejudice telah menjadi topik yang menarik dari masa ke masa. Dimulai awal berkembangnya psikologi, prejudice telah menjadi pembahasan yang tidak ada habisnya. Perjalanannya diwarnai dengan tumbuhnya keilmuan psikologi itu sendiri.
Pembahasan prasangka (prejudice) selalu dikaji dan dipelajari terus menerus karena penerapannya ada di sekitar kita. Prasangka sering dilakukan oleh kita ketika tengah melakukan kontak dengan orang lain, baik kontak secara langsung atau tidak langsung.
Perjalanan prasangka sebagai sebuah kajian terus menjadi perbincangan. Hingga saat ini ada beberapa periode yang mewarnai tumbuh kembangnya prasangka (prejudice) di psikologi.
Sudut pandang dalam memahami prasangka dari masa ke masa tentu berbeda, sebab itu menjadi sangat menarik untuk mengerti bagaimana psikologi mengartikan dan mengkaji prasangka. Periode pembahasan prasangka terbagi menjadi 6 tahap, setiap periode memiliki keunikan masing-masing.
Periode “Scientific Racism”
Prasangka sangat erat hubungannya dengan rasisme dan berbagai bentuk diskriminasi lainnya. Pada periode modern telah banyak pendekatan yang dilakukan peneliti untuk memahami prasangka, dengan tujuan untuk mengurangi bentuk rasisme dan diskriminasi.
Namun, berbeda pada tahun sebelum 1920-an peneliti sosial saat itu melakukan kajian terhadap prasangka untuk menguatkan alasan rasisme. Pada masa ini dikenal dengan periode scientific racism, yang mana peneliti justru menggunakan kajian ilmiah untuk menguatkan rasisme itu sendiri.
Perlu diketahui pada masa itu dikenal dengan periode kolonialisme, di mana itu kelompok superior melakukan dominasi terhadap kelompok inferior. Pandangan peneliti terhadap prasangka lebih ke arah sisi inferior yang dibawa secara alami oleh kelompok lainnya. Seperti misalnya, kelompok kulit putih merupakan sebagai bangsa yang superior dengan kemampuan mental, dan fisik lebih unggul dari kelompok lainnya.
Di periode ini keilmuan membenarkan perilaku rasisme, karena berbagai riset mencoba membuktikan bahwa superior yang dimiliki oleh kaum kulit putih memang terbukti. Sebaliknya, ilmuwan pun membuktikan bahwa bangsa kulit berwarna lebih inferior (lebih lemah, bodoh dan tidak beradab). Sehingga, prasangka yang hadir untuk menguatkan rasisme didukung dengan banyak data dan pernyataan dari ilmuwan itu sendiri. Sebab itu periode ini dikenal dengan Keilmuan yang Rasis (scientific racism).
Periode Psikodinamik (Psychodynamic)
Sekitar tahun 1930 hingga 1950 banyak perubahan pandangan dari psikologi. Salah satu yang tengah berkembang mengenai psikodinamik. Pendekatan ini lebih ke arah klinis dan individual.
Terdapat dua konteks yang cukup fenomenal terjadi pada masa itu. Pertama, tingginya rasisme kulit putih di Amerika Serikat, yang mana banyak segregasi di berbagai hal untuk membedakan kulit putih dan kulit berwarna.
Kedua, kejadian holocaust yang dilakukan Nazi dalam melegalisasi pembantaian pada bangsa Yahudi, dan menganggap bahwa bangsa Arya adalah bangsa terbaik. Dua konteks sosial yang terjadi ini membuat bermunculan fenomena prasangka, dan kemudian banyak peneliti yang tertarik mengkaji lebih jauh.
Tujuan dari penelitian melakukan bagaimana seseorang bisa berperilaku rasisme dengan adanya prasangka negatif terhadap kelompok lain. Melakukan identifikasi dari kecenderungan seseorang secara kepribadian/karakteristik tiap individu.
Sudut pandang ini terbatas pada klinis dan individual, sehingga kesimpulan peneliti lebih mengkaji bahwa prasangka dan rasisme adalah bawaan seseorang yang dipelajari dari masa kecilnya. Pendekatan ini menggunakan psikoanalisis, yang melakukan penekanan terhadap perkembangan psikologis seseorang dari masa kecilnya.
Penekanan prejudice terbatas secara patologikal dengan lingkup yang cukup sempit, yaitu secara personal per individu saja.
Periode Sosiokultural (Sociocultural)
Jika periode awalnya pendekatan dan sudut pandangnya hanya terbatas pada lingkup personal atau individu saja. Pada tahap ini justru mengatakan bahwa penekanan sosial memiliki kontribusi besar dalam tumbuhnya prasangka di masyarakat.
Psikologi sosial mendapatkan ruang lebih untuk melakukan penelitian, karena mulai disadari bahwa perilaku seseorang cenderung terpengaruh oleh keadaan sosial. Salah satu pengaruh terbesar dalam berperilaku adalah norma sosial.
Pada masa masa ini sudah dimulai melakukan pendekatan untuk mengurangi prasangka dan diskriminasi yang terjadi di masyarakat. Tokoh yang cukup terkenal untuk melakukan pendekatan dalam mengurangi prasangka dan diskriminasi adalah Gordon Allport.
Sampai saat ini pendekatan psikologi sosial dalam memahami prasangka masih digunakan dan dipelajari lebih lanjut.
Periode Kognitif dan Evolusioner
Sama halnya dengan pendekatan sosiokultural yang masih digunakan hingga saat ini. Namun, ada beberapa pendekatan yang muncul dan sampai saat ini masih digunakan, yaitu pendekatan kognitif dan evolusioner.
Pendekatan kognitif lebih menekankan secara pola pikir kenapa seseorang bisa memunculkan prasangka. Pada tahap ini mempelajari secara kinerja pikiran kita, dan bagaimana proses hingga bisa sampai prasangka terjadi.
Berbeda dengan pendekatan psikologi evolusioner, pendekatan ini menganggap bahwa perilaku prasangka merupakan suatu cara kita untuk bertahan hidup. Psikologi evolusioner menyatakan bahwa secara insting kita akan menghindari risiko, salah satu caranya dengan memberikan tanda bahaya melalui prasangka.
Dari keenam periode yang telah diterangkan di atas. Memberikan gambaran bahwa perkembangan prasangka di psikologi dari masa ke masa terus tumbuh melewati berbagai paradigma. Hingga saat ini prasangka menjadi topik yang menarik dan bertransformasi ke seluk kehidupan kita.
Prasangka sangat erat dengan terjadinya diskriminasi dan ketidakadilan, selama masih ada diskriminasi, maka pembelajaran mengenai prasangka akan terus terjadi.
Referensi
Whitley, B. E., & Kite, M. E. (2016). Psychology of prejudice and discrimination.