Menunggu Saat Antre Memang Menyakitkan, Apalagi Jika Kita di Posisi Paling Akhir
Antre, sebuah kegiatan yang sering kita hadapi. Berbaris, serta menunggu giliran untuk dilayani adalah bentuk antre yang tentu masih sangat konvensional. Namun, antre baris berbaris seperti itu masih sering terjadi.
Membosankan adalah kesan yang seringkali dirasakan selama mengantre. Pada saat itu kita hanya diminta untuk menunggu, kerap juga dibikin mati gaya dibuatnya. Apalagi jika kita menghadapi antre berbaris yang mengular panjang.
Antre meninggalkan kesan tidak menyenangkan, karena ketika demikian, tidak ada yang bisa kita lakukan. Hanya mampu melihat dan menunggu. Sudah pasti dengan begitu membuat kita merasa bosan. Lebih-lebih kalau ada yang berusaha menyerobot barisan, makin jengkel, bukan?
Permasalahan ketika antre tidak hanya sampai di situ saja. Sekarang, pernahkah kamu mengantre di supermarket, dan kebetulan pada saat itu ada beberapa baris antrean di sejumlah kasir.
Bayangkan begini, saat itu ada dua baris antrean. Kamu baru saja memasuki salah satu antrean tersebut (di saat ini tentu kamu berada di posisi terakhir), seringkali ketika kita melakukan spekulasi terhadap kemungkinan agar mencapai kasir lebih cepat dengan memperhitungkan untuk pindah barisan.
Pindah barisan! Ya, sebuah perilaku yang umum dilakukan ketika kita dihadapi dua atau lebih barisan saat antre.
Pindah barisan saat antre bukan hal baru. Faktanya, sebagian besar dari kita akan berpindah barisan ketika merasa antrean sebelah memiliki kemungkinan untuk dilayani lebih cepat.
Padahal, berdasarkan penelitian dinyatakan bahwa seseorang yang melakukan pindah antrean akan menunggu lebih lama (mendapatkan durasi antre lebih lama) dibandingkan dengan seseorang yang tetap bertahan dalam satu barisan saja.
Selain itu, ketika melakukan pindah barisan, dan mendapati bahwa ternyata lebih lama dalam mengantre akan mengalami ketidakpuasan dengan keputusannya pindah barisan tersebut.
Lalu, mengapa sebagian dari kita tetap melakukan pindah barisan, meskipun teramat sering dibuat kecewa karena keputusan tersebut?
Kecenderungan Menghindari Posisi Akhir (Last Place Aversion)
Kuziemko dkk (2014) menunjukan bahwa sebagian besar dari kita akan menghindari atau enggan untuk menempati posisi akhir. Kecenderungan tersebut ditunjukan dengan eksperimen, dan data survei yang menyimpulkan bahwa seseorang menghindari berada pada posisi akhir, atau dikenal dengan last place aversion effect.
Beberapa konteks seperti mendapatkan bantuan paling akhir akan dihindari oleh sebagian orang. Seseorang memilih untuk mendapatkan distribusi sesuatu lebih dulu (paling tidak, tidak berada di urutan terakhir).
Dan hal ini juga tercermin ketika mengantre. Kekhawatiran terjadi pada seseorang yang menempati posisi akhir pada barisan. Hal tersebut muncul karena merasa bahwa ia adalah pihak yang paling mendapatkan kerugian dibandingkan seseorang di depannya.
Berada di posisi akhir akan mendapatkan layanan paling akhir, dan tentu akan menunggu lebih lama dibandingkan yang lainnya. Menunggu lebih lama memunculkan rasa sakit (pain of waiting).
Di saat itu lah seseorang mencoba memutuskan untuk melakukan pindah barisan, dengan asumsi akan mendapatkan layanan lebih cepat dari posisi sebelumnya. Perhitungan dan asumsi ini disebut sebagai mental accounting. Keputusan yang diambil berdasarkan perhitungan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik.
Namun, sebagian besar keputusan dari mental accounting (Thaler, & Sunstein, 2009) sering tidak tepat dan cenderung bias. Alih-alih ingin mendapatkan keuntungan lebih baik, tetapi yang didapat justru kerugian.
Hal ini sering terjadi kepada seseorang yang memutuskan untuk pindah barisan ketika antre. Di mana sebelumnya melakukan pindah barisan karena ingin mendapatkan posisi lebih baik agar dilayani lebih cepat, tetapi justru keputusan yang diambil tidak tepat, dan pada akhirnya mendapatkan pelayananan lebih lama.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa seseorang yang memutuskan untuk pindah barisan saat antre cenderung merasa kecewa dengan menunggu lebih lama, dibandingkan dengan seseorang yang tetap dan bertahan pada barisannya.
Oleh karena itu, untuk berikutnya apakah kamu masih yakin untuk pindah barisan ketika antre? Apapun itu pilihannya, bersiaplah dengan konsekuensinya. Mau bagaimanapun di saat antre kita tetap menunggu.
Dan menunggu itu memang melelahkan, bukan?
Referensi
Buell, Ryan W., Last Place Aversion in Queues (March 1, 2019). Harvard Business School Technology & Operations Mgt. Unit Working Paper No. 18-053. Available at http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.3090591
Kuziemko, Ilyana, Ryan W. Buell, Taly Reich, and Michael I. Norton. 2014. “Last-Place Aversion: Evidence and Redistributive Implications.” Quarterly Journal of Economics 129 (1): 105–49.
Thaler, & Sunstein, C. (2009). NUDGE: Improving Decisions About Health, Wealth, and Happiness.