Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Dampak Psikologis Menunggu dan Cara Mengatasinya, untuk Kamu yang Sering Membuat Orang Menunggu

Photo by Qusai Akoud on Unsplash

“Menunggu itu menjemukan.” Beberapa kalimat serupa mengenai betapa tidak menyenangkan menunggu sering kita dengar.

Kita pun sering merasakan, bahwa sebagian dari kita tidak menyukai aktivitas menunggu. Menunggu adalah bentuk kegiatan yang sering membuat kita kesal. Apalagi jika kita menunggu sesuatu yang tak pasti dan tidak kunjung datang.

Karena di saat kita menunggu, di saat itu pula kita tak berdaya. Ketika itu lah kita merasakan yang dikenal dengan namanya pain of waiting (sakitnya menunggu).

Merasakan sakitnya menunggu membuat kita untuk menghindari kegiatan tersebut. Secara naluriah manusia cenderung untuk menghindari sesuatu yang membuatnya sakit atau pengalaman yang tidak menyenangkan.

Banyak di antara kita menghindari atau tidak menyukai kegiatan menunggu, karena menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.

Selanjutnya, tentu merasakan ketidakpuasan terhadap kegiatan menunggu itu sendiri. Hal ini yang memperburuk keadaan ketika sedang menunggu. Dengan menunggu cenderung membuat kita merasa merugi.

Ketika menunggu akan terkait dengan waktu. Pada dasarnya waktu merupakan komoditas yang berharga (Backer, 1965), dan manusia cenderung berusaha membuat keputusan untuk tidak merugikan dirinya, termasuk keputusannya terkait penggunaan waktu yang berharga tersebut (Lecler, Schmidtt, dan Dube, 1995).

Sebaliknya ketika menunggu, kita cenderung untuk membuang waktu, karena terfokus pada menunggu dan tidak mengisi sebuah kegiatan, sehingga secara psikologis terpaku pada kekosongan yang disebabkan oleh menunggu.

Dengan begitu muncul rasa ketidakpuasan yang disebabkan oleh menunggu, hal ini juga dapat disebut sebagai psychological cost/psychic cost.  Berikutnya akan merasakan kelelahan, tetapi tidak hanya lelah secara fisik, tetapi lelah secara psikis juga.

Ketidakpastian

Menunggu memunculkan ketidakpastian, hal ini yang dihindari dan memiliki kemungkinan untuk memperburuk keadaan ketika tengah menunggu. Ketidakpastian termasuk salah satu yang sulit untuk diatasi oleh manusia, dan mampu menyebabkan perasaan yang tidak menyenangkan.

Ketika menunggu dapat meningkatkan rasa ketidakpastian tersebut. Semakin banyak sesuatu yang tertunda akan menyebabkan waktu menunggu menjadi semakin lama sehingga ketidakpastian semakin tinggi. Kemudian akan berdampak untuk berpeluang memunculkan rasa amarah. Hal ini juga dapat diperburuk jika penundaan itu sesungguhnya bisa diatasi (Taylor, 1994). Perasaan seperti dimainkan akan muncul, karena penundaan atau apapun itu harusnya dapat diatasi tanpa perlu membuat orang lain menjadi menunggu lebih lama.

Tentu kita akan teramat benci dengan seseorang yang membuat kita menunggu, apalagi jika alasan mereka terlambat sebenarnya bisa diatasi. Misalnya alasan macet di Jakarta yang sudah tidak relevan digunakan sebagai pembenaran seseorang datang terlambat. Sesungguhnya masyarakat Jakarta harusnya sudah terbiasa hidup bersama kemacetan.

Menurut Maister (1985), kegiatan menunggu dapat memberikan pengalaman buruk jika mereka tidak bisa mengatasi keadaan tersebut.

Mengatasi Ketidaknyamanan dari Menunggu

Secara psikologi seseorang dapat mengatasi rasa ketidaknyamanan dari menunggu. Salah satunya dengan memberikan informasi secara transparan mengenai progres kegiatan yang sedang dilakukan. Menjelaskan dan memberi tahu kemajuan dari kegiatan yang menyebabkan menunggu akan sangat membantu untuk mengurangi beban psikologis (psychic cost).

Semakin jelas waktu yang diberi tahu mengenai berapa lama kita menunggu, maka semakin baik untuk mengatasi rasa tidak nyaman. Sama halnya memberikan sebab mengapa terjadi keterlambatan dan penundaan pada suatu hal.

Segala informasi yang diberikan mengurangi rasa ketidakpastian. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Allon dan Bassamboo (2011) tentang mengatasi rasa ketidakpastian dari menunggu yang disebabkan oleh antre. Adanya informasi tersebut mampu memberikan ketenangan terhadap responden dan membantu mengurangi penolakan dari kegiatan antre tersebut (Allon & Bassamboo, 2011, Allon, Bassamboo & Gurvich, 2011).

Penjelasan tambahan dari Yu, Allon dan Bassamboo (2017) memberitahukan bahwa informasi mengenai progres dari antre dapat mengurangi perasaan menunggu seseorang. Hal tersebut disebabkan karena adanya perasaan kemajuan (feeling of progress), yang menyebabkan memunculkan persepsi mengenai keadilan sosial, dan transparansi terhadap antre untuk semua orang.

Oleh karena itu jika kita membuat seseorang menunggu, alangkah baiknya memberikan informasi sedetail dan sejelas mungkin mengenai penyebab terlambat. Kemudian memberikan informasi berkala mengenai kemajuan untuk mengatasi dan mengurangi masalah yang disebabkan dari menunggu tersebut.

Referensi

Allon, Gad, and Achal Bassamboo. 2011. “The Impact of Delaying the Delay Announcements.” Operations Research 59 (5): 1198–1210.

Allon, Gad, Achal Bassamboo, and Itai Gurvich. 2011. “‘We Will Be Right with You’: Managing Customer Expectations with Vague Promises and Cheap Talk.” Operations Research 59 (6): 1382– 94.

Becker, Gary. 1965. “A Theory of the Allocation of Time.” The Economic Journal 75 (299): 493–517.

Yu, Qiuping, Gad Allon, and Achal Bassamboo. 2017. “How Do Delay Announcements Shape Customer Behavior? An Empirical Study.” Management Science 63 (1): 1–20. doi:10.1287/mnsc.2015.2335.

Leclerc, France, Bernd H Schmidtt, and Laurette Dubé. 1995. “Waiting Time and Decision Making: Is Time Like Money?” Journal of Consumer Research 22: 110–20.

Buell, Ryan W., Last Place Aversion in Queues (March 1, 2019). Harvard Business School Technology & Operations Mgt. Unit Working Paper No. 18-053. Available at http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.3090591