Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Jika Memahami "Maaf" Saja Salah, Bagaimana Bisa Memaafkan dengan Baik?

Apakah dengan mengucapkan ‘permintaan maaf,’ sudah cukup untuk memaafkan dan mengampuni kesalahan seseorang?

Pertanyaan ini mungkin bisa direnungkan kembali. Sekadar kata ‘maaf’ cukupkah? Beberapa dari kita mungkin kerap mengatakan hal seperti, “aku tidak butuh kata maafmu,” atau “percuma maaf jika hanya di mulut.” Di dalam dinamika sosial pertentangan dan pertanyaan akan makna ‘maaf’ menjadi pembahasan yang menarik.

Sejauh mana kita bisa percaya dengan kata ‘maaf’?

Memahami ‘maaf’ yang tidak sekadar kata-kata perlu direnungkan. Di psikologi sendiri terapi dengan memaafkan sudah marak dilakukan. Sekitar 30 tahun lalu hingga kini, penerapan terapi memaafkan menjadi pilihan dalam psikoterapi. Ternyata, memaafkan memiliki keampuhan dalam mengatasi beban psikologis seseorang.

Oleh karena itu, sesungguhnya maaf atau memaafkan bukan hanya kata-kata, tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa mengatasi luka hati dan beban psikologis. Terapi memaafkan sudah terbukti di banyak jurnal ilmiah terkait psikoterapi.

Akan sangat baik, untuk siapa pun sungguh-sungguh dalam meminta maaf atau memaafkan. Karena hanya dengan memaafkan saja sudah mampu menyelesaikan beberapa permasalahan psikologis. Meski demikian, semakin berat beban psikologis, semakin lama juga proses dalam memaafkan. Jika beban psikologis terlalu berat, sangat dianjurkan untuk mendatangi profesional seperti psikolog – agar diberi penanganan yang tepat.

Memahami Memaafkan

Definisi dan pemaknaan dari kata ‘memaafkan’ sangat beragam dan luas. Hal ini disebabkan karena perbedaan keyakinan, pandangan, budaya, dan agama dalam memahami konsep mengenai ‘memaafkan’. Sehingga, jika berada pada konteks budaya atau daerah tertentu akan memiliki pemaknaan yang berbeda tentang konsep ‘memaafkan’.

Terlepas dari banyaknya definisi mengenai ‘memaafkan’, menurut Wade dll (2014) menyatakan bahwa memaafkan itu tidak semata dengan penyederhanaan dari pengurangan rasa marah, kepahitan hidup, dan dendam. Uniknya dari memaafkan adalah melakukan pendekatan terhadap penyembuhan yang terfokus dengan moralitas, dan ketulusan untuk memaafkan suatu hal/tindakan tertentu.

Memaafkan adalah tindakan mengampuni seseorang yang telah membuat terluka, baik terluka secara fisik atau psikologis. Keadaan memaafkan akan tercapai jika berhasil mengurangi pemikiran, perasaan, dan perilaku negatif yang telah melukai diri sendiri. Kemudian, sang pemberi maaf melakukan penerimaan diri dan mengangkat nilai humanisme untuk memaafkan serta meningkatkan sebuah value (nilai) diri.

Selanjutnya, jika memungkinkan sang pemberi maaf juga memberi kesempatan untuk mengembangkan pemikiran dan perasaan positif pada seseorang yang telah memberi luka psikologis. Hal ini dilakukan untuk mampu mengurangi pemikiran negatif, dendam, kebencian, dan amarah pada penyebab luka psikologis yang dirasakan.

Semua tindakan dalam memaafkan memerlukan proses, dan perjalanan untuk itu tidak mudah, mungkin juga rumit, tetapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Memaafkan seharusnya dijadikan proses dalam terapi penyembuhan diri. Penyembuhan atas luka psikologis yang dirasakan.

Meskipun begitu, perlu diingat bahwa tidak semua beban psikologis dapat langsung disembuhkan dengan memaafkan. Semakin besar beban psikologis yang dirasakan, maka proses penyembuhan diri dengan memaafkan pun akan lebih lama dan penuh perjuangan.

Jangan ragu untuk mencoba memaafkan, karena memaafkan dapat meringankan beban psikologis. Jangan ragu juga untuk mencari pertolongan untuk membantu proses memaafkan, mencari orang terpercaya untuk bercerita misalnya, atau berkonsultasi dengan psikolog.

Berbagai upaya dapat membantu untuk memperlancar proses memaafkan, selama tidak ada yang dirugikan atau disakiti. Karena memaafkan adalah proses penyembuhan diri tanpa melukai orang lain dan diri sendiri. Sehingga, memaafkan merupakan proses penyembuhan diri dengan damai, juga menghargai satu sama lain.

Dengan memahami makna dan proses penyembuhan diri dari memaafkan, maka diharapkan dapat menenangkan dan mendamaikan diri. Supaya dapat kembali bersinar untuk menghadapi kehidupan ini lagi.

Jadi, apakah sudah memaafkan hari ini?

Referensi

Freedman, S., & Zarifkar, T. (2016). The psychology of interpersonal forgiveness and guidelines for forgiveness therapy: What therapists need to know to help their clients forgive. Spirituality in Clinical Practice, 3(1), 45–58. https://doi.org/10.1037/scp0000087

Wade, N. G., Hoyt, W. T., Kidwell, J. E., & Worthington, E. L., Jr. (2014). Efficacy of psychotherapeutic interventions to promote forgiveness: A meta-analysis. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 82, 154 –170. http://dx.doi.org/10.1037/a0035268