Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Melihat Citra Tubuh Melalui Konsep Body Positivity

Menurut kalian definisi body goals itu seperti apa, sih? Seringkali kita lihat di berbagai media dari buku, televisi, hingga platform sosial media memperkenalkan bagaimana standar citra tubuh yang dikenal di kalangan masyarakat.

Standar yang sebagaimana kita tahu biasanya bertubuh langsing, tinggi, dengan kulit bagai porselen. Hal tersebut terkadang menjadi suatu stigma yang tertanam pada banyak individu khususnya perempuan. Di mana mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat terlihat baik di masyarakat dengan membentuk tubuh sesuai standar kecantikan yang ada.

Terkadang mereka juga melakukan berbagai macam cara dari melakukan program diet, olahraga, hingga pergi ke klinik kecantikan. Semua hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan bentuk tubuh yang diinginkan.

Namun, karena keinginan tersebut dan merasa ingin terlihat semakin baik di mata masyarakat terkadang terdapat beberapa orang menggunakan cara yang kurang tepat untuk mendapatkan tubuh ideal dalam waktu singkat.

Masyarakat terkadang menggunakan produk berbahan kimia berbahaya hingga diet ekstra untuk bisa mencapai hal tersebut. Adapun beberapa individu yang juga merasa kurang percaya diri untuk bisa show up ke publik karena kekurangan yang mereka miliki. Entah itu dalam tanda kutip bentuk tubuh mereka, bekas luka maupun kecelakaan yang menggores kulit mereka, hingga kekurangan lainnya.

Media sosial menjadi salah satu platform yang sangat penting untuk mengalirkan berbagai macam informasi ke khalayak publik. Selain itu, media juga bisa menjadi penyalur pesan-pesan tertentu, termasuk mengenai rekonstruksi standarisasi kecantikan.

Kita ambil contoh salah satu publik figur yaitu, Tara Basro yang pernah mengunggah suatu postingan pada awal Maret 2020. Dalam postingan tersebut Tara Basro mengunggah foto tanpa busana dengan menunjukkan beberapa ketidaksempurnaan yang ada yaitu di daerah perut dan paha. Postingan tersebut diberi caption “Worthy of Love” di mana melalui konten ini dilakukan untuk mendukung kampanye Body positivity.

Citra tubuh yang positif ini juga direpresentasikan dalam suatu film berjudul Imperfect: Karier, Cinta, dan Timbangan, di mana film ini diangkat dari novel yang berjudul Imperfect: A Journey to Self-acceptance karya Meira Anastasia. Dalam film ini menceritakan mengenai bagaimana salah satu isu penerimaan diri individu dalam menghadapi standarisasi kecantikan masyarakat umum yang mana harus cantik, putih, berpostur tubuh tinggi, dan juga ramping.

Selain itu dalam film tersebut juga memperlihatkan bagaimana pemeran utama yaitu Rara yang diperankan oleh Jessica Mila merasa tertekan dengan beberapa omongan negatif orang-orang mengenai penampilan fisiknya.

Setelah melihat dua contoh tadi, kira-kira apa, sih, itu yang dimaksud dengan Body Positivity? Dalam Anisa & Winduwati (2021) menuliskan konsep kepositifan tubuh atau bisa bahasa trennya yaitu Body Positivity merupakan bagaimana individu dapat menempatkan pola pikir secara positif dan melihat diri mereka layak mendapatkan pandangan positif mengenai tubuh mereka sendiri.

Selain itu, menurut See Tylka dan Wood-Barcalow (2015) dalam (Cohen, Newton-John, & Slater, 2020), tubuh yang positif direpresentasikan dengan bagaimana kita mengapresiasi keunikan yang ada pada tubuh kita, menerima berbagai macam aspek yang ada di tubuh kita yang pada dasarnya tidak sesuai dengan standarisasi media, memandang bagaimana kecantikan secara luas, menetapkan inner positivity, mencoba untuk menjaga tubuh tetap sehat, dan yang terakhir adalah bagaimana kita bisa menyaring informasi secara sehat untuk kepentingan citra tubuh.

Nah, melalui beberapa pengertian tersebut kita tahu bahwa kepositifan tubuh dapat dilakukan dengan mulai menempatkan mindset positif mengenai citra tubuh. Tubuh dirawat dan dijaga sesuai dengan kemampuan diri. Selain itu, perlu diingat bahwa citra tubuh tidak selalu harus selalu sama dengan standarisasi kecantikan masyarakat.

Seperti kampanye Tara Basro mengenai Body Positivity pada dasarnya semua bentuk tubuh itu cantik walaupun terdapat beberapa kekurangan dan juga dapat dilihat lagi pada pengertian sebelumnya bahwa tubuh yang positif adalah bagaimana kita menjaga tubuh kita tetap pada definisi sehat. Sayang, kan, kalau cantik tetapi tubuh kita, nggak dalam keadaan sehat?

Referensi

Anisa, A. R., & Winduwati, S. (2021). Pemaknaan Body Positivity dalam Film Imperfect Pada Kalangan Remaja di Jakarta. Koneksi, Hal 427-433.

Cohen, R., Newton-John, T., & Slater, A. (2020). The case for body positivity on social media: Perspectives on current advances and future directions. Journal of Health Psychology.

Tulisan ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh psikolog atau tenaga kesehatan. Jika Anda merasa kewalahan, hubungi psikolog, puskesmas, atau layanan kesehatan terdekat.

R
Redaksi psiko.id

Tim redaksi psiko.id menulis dan menyunting artikel agar psikologi mudah dibaca, akurat, dan relevan untuk pembaca Indonesia.