Lewati ke isi
Psikologi untuk dibaca semua orang.

Adaptasi atau Pensiun? Tantangan Atlet Menghadapi Pandemi

Pada tahun 2020, seluruh negara di dunia dipaksa menghadapi pandemi. Virus korona yang tiba-tiba merajai seluruh bumi memaksa banyak perubahan. Segala aktivitas harus melakukan penyesuaian, jika tidak, bisa gawat, bisa-bisa tertular dan memakan korban jiwa.

Bukan hanya aktivitas saja yang berubah, tetapi berbagai rencana yang sudah dicanangkan jauh-jauh hari harus diundur atau dibatalkan. Semua itu karena pandemi korona ini. Salah satu kegiatan akbar yang dibatalkan adalah; Olimpiade Tokyo 2020.

Perhelatan akbar tersebut harus diundur karena jika tetap dilakukan akan berpotensi besar terhadap penyebaran virus. Akibatnya, berbagai efek domino tercipta, salah satunya terhadap mentalitas atlet.

Mentalitas atlet merupakan bagian terpenting dalam menunjang performanya ketika bertanding. Namun, dengan banyaknya perubahan yang terjadi selama pandemi, para atlet harus menghadapi hal-hal baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Atlet merupakan bintang lapangan, dan sinar bintangnya pun meredup karena beberapa pertandingan meniadakan penonton, seperti ghost games di pertandingan sepak bola Eropa.

Selain tidak adanya penonton, atlet juga perlu meniadakan aktivitas yang menuntut kerja kelompok ataupun interaksi (seperti berlatih dengan rekan satu tim). Di masa pandemi ini interaksi sosial pun dibatasi dan dituntut untuk menjaga jarak. Hal-hal seperti ini merupakan hal yang tidak biasa dirasakan oleh atlet, dan tentu saja mempengaruhi mentalitas dan akan menurunkan performa di lapangan.

Beberapa latihan untuk atlet pun ditiadakan karena upaya pencegahan penyebaran dari virus korona ini. Akibatnya, tentu para atlet dipaksa melakukan latihan di rumah/tempat olahraga pribadi seorang diri. Hal-hal seperti ini terpaksa dilakukan, jika tidak atlet tidak dapat menjaga kebugaran tubuh atau performanya kelak ketika bertanding.

Atlet harus berusaha menghadapi pandemi dengan menciptakan adaptasi terbaiknya agar dapat bertahan dan menjaga performa ketika bertanding. Jika tidak melakukan penyesuaian, performa atlet akan menurun, dan karir profesionalitasnya bisa mengalami keterpurukan.

Ada beberapa tahap yang harus dilalui oleh atlet untuk dapat menyesuaikan dan bertahan di masa pandemi ini. Bila berhasil akan membuat atlet tetap menjaga performanya terbaik, dan tentu karir di masa mendatang. Namun, jika tidak beradaptasi, maka performa atlet akan menurun.

Tahap Sebelum Korona (Pre-Coronavirus Stage)

Pada tahap ini atlet sedang terlibat pada banyak aktivitas olahraga yang biasa dilakukan. Para atlet tengah mengalami puncak kepadatan musim, karena tahap ini dirasakan pada pertengahan Februari – pada saat pandemi mulai menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Emergensi akan perubahan dalam menghadapi pandemi belum banyak dirasakan oleh para atlet. Namun, ketidakpastian mulai terjadi, kegamangan pada tahap ini akan lebih terasa pada atlet yang sedang mengalami transisi, yakni perpindahan dari junior ke senior, kadet ke junior dan seterusnya. Bagi atlet yang sedang berada pada posisi transisi tersebut akan terasa mengenai ketidakpastian karirnya.

Karena, situasi baru yang mengancam ketika isu mengenai protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan tentu pelarangan acara olahraga mulai terjadi. Perlu diperhatikan juga pada tahap ini, biasanya atlet belum begitu terasa dampak, ataupun perubahan yang akan terjadi. Serta bagaimana pengaruh pandemi bagi mentalitas dan performa atlet.

Meski begitu, di tahap ini sudah mulai tampak ketidakpastian akan aktivitas olahraga yang akan berubah dan mengganggu mentalitas atlet di masa mendatang.

Tahap A: Ketidakpastian (Coronavirus stage-A: Instability)

Tahap awal ini merupakan yang mungkin mengguncang keadaan para atlet, karena berbagai perubahan memaksa penyesuaian. Tidak hanya untuk atlet, tetapi seluruh pemangku kepentingan akan mengalami dampak ketidakpastian dan penyesuaian terhadap perubahan. Pemangku kepentingan tersebut ialah, atlet, pelatih, staf, manajer, pemilik klub, penikmat olahraga, dan sebagainya.

Jika pemangku kepentingan lain akan berdampak di berbagai sektor seperti bisnis, dan hiburan. Namun, bagi atlet akan berdampak pada performa dan mentalitasnya saat bertanding. Hal ini terjadi karena banyak perubahan yang harus disesuaikan oleh para atlet.

Misalnya, keadaan fisik dan psikologis yang berbeda selama pandemi. Latihan fisik akan terganggu karena tidak bisa berkumpul atau melakukan seperti biasanya. Berdasarkan perubahan tersebut akan mengganggu keadaan psikologis atlet, jadwal latihan, dan pertandingan terganggu sehingga memicu efek kejut bagi para atlet.

Atlet yang terbiasa berlatih di ruang terbuka dengan banyak rekannya, kemudian dipaksa harus berlatih sendiri. Lalu Interaksi dengan pelatih dan ahli gizi jadi berkurang, hal ini membuat pemantauan kondisi atlet menjadi lebih sulit.

Perubahan ini membuat keterasingan bagi atlet, dan ini akan sangat berdampak bagi mentalitas atlet. Atlet dipaksa untuk menghadapi keadaan ini seorang diri. Berbagai dampak psikologis yang bisa muncul seperti; respon emosi negatif yang memicu perilaku maladaptif terhadap penyesuaian akan perubahan. Namun, bagi atlet yang dapat mengatasi permasalahan ini akan memicu respon emosi positif seperti perilaku adaptif. Perilaku adaptif ini menjadi penting untuk dapat bertahan dari perubahan dan ketidakpastian yang dihadapi. Dengan begitu, performa dan mentalitas atlet dapat terjaga.

Tahap B: Koping atau Kemunduran (Coronavirus stage-B: coping or regression)

Ketika atlet dihadapi oleh perubahan, ada dua pilihan yang dimiliki. Pertama, mampu melakukan koping atau pemecahan masalah terhadap perubahan. Kedua, tidak dapat menyelesaikan permasalahan atau perubahan yang terjadi, sehingga mengalami kemunduran performa.

Perilaku maladaptif yang membuat atlet tidak dapat mengatasi perubahan disebabkan karena mencoba menolak atau tidak mengakui adanya perubahan keadaan. Kemudian, tidak menerapkan perilaku adaptasi terhadap penyesuaian perubahan selama pandemi. Bila demikian, atlet tidak bisa menjaga performanya.

Selanjutnya, bagi atlet yang mampu melakukan perubahan dengan perilaku adaptif akan bertahan dan tetap menjaga performanya, baik secara fisik maupun mental. Perilaku adaptif tersebut biasanya akan melakukan pengaturan ulang mengenai motivasi, dan tujuan selama pandemi berlangsung.

Menjaga diet, dan pola tidur yang tentu di masa pandemi ini memerlukan penyesuaian, karena banyak perubahan aktivitas pada atlet itu sendiri. Contohnya, para atlet melakukan isolasi, latihan mandiri yang tidak menentu, pola makan yang tentu berubah juga, sehingga memerlukan penyesuaian atau pengaturan ulang kembali mengenai diet dan pola tidur. Kedua hal tersebut sangat penting untuk menjaga kebugaran para atlet.

Tidak hanya mengatur ulang mengenai aktivitas pribadi yang terkait kebugaran dan mentalitas atlet. Namun, atlet juga perlu mengatur ulang bagaimana interaksi dengan pihak luar. Seperti kepada pelatih, ahli gizi, manajer, ataupun terhadap rekan sesama atlet. Hal ini perlu dilakukan agar atlet tidak terputus dengan dunia luar dan kehidupan profesionalitasnya.

Penyesuaian yang dilakukan tersebut bertujuan agar atlet dapat menjaga performanya, dan siap bertanding jika diperlukan.

Tahap C: Bertahan atau Penurunan/Pensiun (Coronavirus stage-C: endures or decreases)

Tahap terakhir ini merupakan hasil dari proses yang sudah dilalui sebelumnya. Bilamana selama pandemi ini atlet mampu melakukan penyesuaian terhadap perubahan maka akan bertahan dalam karir olahraganya, hal ini terjadi karena performa atlet tetap terjaga. Penyebab terjadinya performa adalah aktivitas yang dilakukan tetap menjaga kebugaran fisik dan mental atlet itu sendiri.

Sebaliknya, bagi atlet yang tidak dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi selama pandemi akan melakukan penurunan performa. Atlet yang maladaptif terhadap perubahan akan tidak bisa menjaga performanya, baik secara fisik maupun mentalnya. Dampaknya adalah pensiun yang mengancam karir sang atlet itu sendiri.

Oleh karena itu, pada tahap C merupakan proses akhir dari penyesuaian atlet selama menghadapi perubahan pandemi. Bagi atlet yang berhasil melakukan penyesuaian, maka ia memiliki indikasi adaptasi sebagai berikut; mampu menciptakan tujuan baru, kebugaran fisik dan mental yang terjaga, dan kepercayaan diri serta kompetensi yang meningkat untuk bertanding selama pandemi.

Empat tahap yang telah dijelaskan ini merupakan proses yang dialami oleh atlet dalam menjaga performa selama adanya penyesuaian yang terjadi selama pandemi. Para atlet dituntut untuk bersiap terhadap ketidakpastian yang terjadi (seperti, tidak adanya penonton selama bertanding). Para atlet juga harus menerima keadaan dan melakukan beberapa penyesuaian agar dapat menjaga kebugaran fisik dan mentalitasnya. Dengan tujuan akhir agar dapat berkompetisi kembali di dunia profesional.

Adaptasi adalah jawaban terbaik dalam menghadapi perubahan. Begitu juga dengan para atlet ini, mereka harus mampu bertahan dan menyesuaikan diri agar tetap bertanding dan menjaga performanya. Dan pada akhirnya, mereka dapat tetap bertahan di karir olahraga yang digeluti di bidang masing-masing.

Sebagai penonton atau pencinta olahraga juga harus memberi dukungan pada atlet kesayangannya. Hal-hal ini menjadi penting untuk kita, apalagi jika pembaca sekalian memiliki keminatan pada bidang psikologi olahraga. Fenomena ini sangat menarik untuk dipelajari lebih lanjut bagi pembaca yang ingin terjun di dunia psikolog olahraga, bukan?

Referensi

Samuel RD, Tenenbaum G and Galily Y (2020) The 2020 Coronavirus Pandemic as a Change-Event in Sport Performers’ Careers: Conceptual and Applied Practice Considerations. Front. Psychol. 11:567966. doi: 10.3389/fpsyg.2020.567966